Tampilkan postingan dengan label the rainbow life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the rainbow life. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2009

ternyata kita cantik

Cerita ini sebenarnya dikutip dari sebuah buku. Cuma mungkin aku hanya ingin berbagai cerita. Jika ada yg belum pernah membaca cerita ini semoga bisa memetik manfaatnya. Bagi yang pernah membacanya, kuharap bisa mengingatnya kembali agar tetap selalu ingat bahwa kita adalah hal tercantik yang dibuat oleh Nya. Dan semoga ttp menjadi inspirasi bagi semua orang. Aku juga berterimakasih kepada temanku yang telah menghadiahkan buku ini padaku. Salah satu cerita dalam buku itu (diantara beberapa cerita) judul inilah yang membuatku tertarik. Selain ceritanya yang menarik, tp juga itulah cerminan kehidupan semua orang, tak ayalnya aku. Ehmm just read it:
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja ke sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik.”Liat cangkir itu”, kata nenek kepada suaminya. “Kau benar, itu cangkir terantik yang pernah aku lihat”, ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara. “Terima kasih untuk perhatiannya. Perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang perajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, tetapi orang itu berkata, “Belum!”. Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! Teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang itu berkata ‘’Belum!”.
Akhirnya, ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku, asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.
Wanita itu berkata, “Belum!”. Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. Tolong! Hentikan penyiksaan ini!. Sambil menangis aku berteriak-teriak sekuatnya. Tapi orang itu tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar2 dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
Teman, seperti itulah Allah swt membentuk kita. Pada saat Allah swt membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi, itulah cara mengubah kita agar menjadi cantik dan memancarkan kemuliaanNya.
Teman, anggaplah sebagai kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai cobaan, sebab kita tahu bahwa ujian menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kita menjadi sempurna, utuh, dan tak kekurangan suatu apapun.
Apabila kita sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati karena Allah sedang membentuk kita. Bentukan-bentukan itu memang menyakitkan, tetapi setelah semua proses itu selesai kita akan melihat betapa cantuknya Allah membentuk kita.

Kamis, 08 Januari 2009

goodbye my lover, goodby my frend

They were friend. Kubentuk mereka dengan pikiranku sendiri. Kulahirkan dari jiwaku yang sepi. Kukumpulkan segala warna-warni nafasku untuk menciptakan mereka. Mewujudkannya seakan mereka selalu bermain denganku, selalu bersamaku, selalu berputar dan berlari denganku, dan menjadikan mereka sandaranku sesaat aku lelah. Mereka tak pernah lelah untuk menjadi seorang ‘teman’ bagiku. Selangkah dalam dekade kehidupan, mereka memudar. Tergantikan oleh warna lain yg baru. Yang sesungguhnya tak kalah indah, namun tetap ‘beda’. Tapi mereka tetap ada. Mereka tetap disini, terukir prasasti dalam sejarah kehidupanku. Bahwa mereka sangat berarti dalam memberikan secoret warna untuk ku bernafas. Tinggal tersisa senyum dalam diriku. Tak kusesali atas ‘kesendirianku bersama mereka’. Mereka adalah wujud kesendirianku. Adanya mereka adalah adanya kesendirianku. Dan sekarang, ada tidaknya kehadiran mereka bukan merupakan kesendirianku. Kebersamaan itu telah hadir. Cinta itu telah hadir di tengah-tengah lingkunganku, keluargaku, saudaraku, sahabat-sahabatku dan mereka nyata adanya. Dan kepada seorang pria yang akan menjadi tempatku bercinta dan berkasih. Kebersamaan itu lebih terasa, dan terasa beda.